Duh.., Tergadainya PSSB-ku

Hiruk pikuk Stadion Cot Gapu tinggal kenangan. Kenangan sulit terlupa. Padahal, satu persatu tim raksasa, sekelas Persebaya, setangguh Persija, sekuat Sriwijaya, pernah bertekuk lutut di tanah bertuah itu.

PSSB vs Bengkulu

Ist (Harian Aceh/Joniful Bahri)

Lenggok tarian kegembiraan dan teriakan juang mania hilang. Sepi. Sesepi hati para tifosi. Kerinduan perhelatan sepak bola bersama PSSB-ku di Stadion Cot Gapu, berganti senyap.

Kios-kios kumuh penjual keripik di sekitar stadion jadi saksi. Kerinduan fanatisme pendukung PSSB-ku pun hening. Seiring waktu PSSB-ku makin menjauh dan dijauhi.

Bertahta di Divisi Utama, sederetan manajer bersama pengurus membahu membunyikan genderang perjuangan. Menjaga marwah dan kebanggaan daerah.

Banyak klub takluk di stadion itu. Namun, sayang, entah karena salah urus atau karena sederetan manajer yang tak becus, prestasi PSSB-ku melorot.

Melorotnya prestasi Laskar Kota Juang bukan tanpa sebab. Seabrek persoalan menjadi penentu semangat anak-anak. Pemainnya sebagian anak para pengurus dan tokoh bola. Soal keterampilan, urusan tujuh belas.

Awal kemunduran PSSB-ku tahun 2008. Prestasi menurun drastis membuat penonton susut. Masalah gaji pemain tak terselesaikan. Ini juga faktor membuat prestasi “aneuk keumuen” payah.

Belum lagi gaji sejumlah legiun asing yang dibeli dengan sistem bloe miong lam eumpang. Asal bule atau negro. Kontrak laju. Manajer serta pengurus dengan lihai mencucurkan air mata.

“Anakku, adikku, mari kita tetap bermain, membela PSSB-ku, menjaga marwah daerah.” Begitu kira-kira ucapan para pengurus dan manajer PSSB-ku. Memohon pada anak-anak yang lugu, tetapi sampai akhir kompetisi, keringat anak-anak belum dihargai.

Utang di setiap akhir kompetisi antara 2008-2011 menumpuk. Umumnya gaji aneuk kumuen dan bule yang dikontrak. Tapi, apakah honor pelatih, manajer dan pengurus ada yang tertunggak? Mudah-mudahan senasib dengan aneuk kumuen.

Laporan utang terus menumpuk. Uutang kerap dilapor, uang masuk tak banyak yang tahu. Waktu terus berlalu. Manajer sibuk bela diri. Pemkab Bireuen disalahkan karena tak mau bantu.

Terakhir disalahkan Ketua Umum PSSB Bireuen Nurdin Abdul Rahman, yang juga Bupati Bireuen. Sederetan manajer cuci tangan. Utang terus bertambah. Protes mantan pemain terus membuncah. Dianggap angin lalu.

Kompetisi 2010-2011 sami mawon. Manajernya konon orang dekat pejabat provinsi. Tapi maaf saudara, utang masih terus membubung. Awalnya Rp4,5 miliar. Bengkak jadi Rp7,2 miliar. Sementara, uang masuk dan uang keluar tidak ada pertanggungjawaban.

Tak heran, di kompetisi 2011-2012, PSSB-ku terancam tidak ikut kompetisi. Musyawarah yang digelar untuk mencari solusi pun deadlock. Namun, PSSB-ku akhirnya ikut kompetisi juga.

Sayang sekali yang bermain bukan PSSB-ku, tapi Paraguay-ku, pemain yang menghabiskan puluhan miliar belajar bola di negeri orang. Namun, mainnya tetap seperti aneuk kumuen jebolan lampoh u.

Belum lagi pengondisian Stadion Cot Gapu tak layak pakai, sehingga pertandingan digelar di Banda Aceh. Maka, gundahlah sang pencinta bola. Di saat itu pula roh PSSB-ku hilang.

Tak ada lagi kebanggaan. Kostum kebesaran (oranye) dicampakkan jauh di luar stadion atau tercecer di Cot Moto Gileng. PSSB-ku kini tinggal nama.

Mudah-mudahan, satu masa, PSSB-ku kembali lagi ke Bireuen. Kostum oranye kebanggaanku bisa dipakai lagi aneuk kumuen. Dan jangan ada lagi laporkan utang bertambah. Duh.., tergadai sudah PSSB-ku. Semoga tahun depan tidak dijual. [Murdeli]

Tags: , , ,

2 Responses to “Duh.., Tergadainya PSSB-ku”

  1. apoy says:

    bang azis, jangan jadi pisau dua mata. salah satu stu mata pisau nti meuju ke abg

  2. Klu sikap KKN tdk boleh dihilangkan di INDON jgn harap bola akan berkembang, birokrasi gk jelas, kayak mimpi disiang bolong utk memajukan bola di tanah Aceh kusus nya dan INDON umum nya, jgn kan setingkat klub, yg diatas saja seperti PSSI berantam sesama sendiri, gimana mau bicara tentang bola, gimana mau bicara tentang piala dunia, setingkat asean aja belum bisa.
    Soal PSSB adalah kebanggaan masyarakat kebanggan daerah, marwah nya Bireun, yg jadi persoalan nya sekarang kenapa klu sudah jadi morat marit seperti ini, utang sana utang sini, kenpa rakyat Biereun tdk turun tangan utk membantu.? kok cuma yg tau bilang PSSB itu kepunyaan masyarakat Biereun, kebanggaan daerah, klu sekedar ngomong siapa saja bisa, meunyoe han ek le kelola bola gulong tika keudeh, bek wate kahana peng ka peusalah pemerentah setempat, pihak pemerintah daerah jai that manteung yg peurlee dipikee, manteung na masyarakat lam gampong pajoh mangat dua thon sigoe, jai that manteung rakyat gasin itu yg lbh penting. bek abeh dana daerah mateung keu bola, hana meu untong sapue pih. Han tom takalon bak nanggroe laen dana bola bak pemerintah. Seandainya masyarakt Biereun sudah tdk mampu lg utk mengurus PSSB knp tdk diberikan saja kpd pihak swasta utk mengurus nya. seperti di negara2 Eropa semua klub2 bola dikelola oleh pihak swasta.

Leave a Reply